Indonesia di Tengah Pusaran Perang Ekonomi Dunia

 7,359 total views,  1 views today

O P I N I

Kenaikan harga minyak dunia, kebijakan bank sentral Amerika yang terus menerus menaikkan suku bunga the fed, perang dagang yang dilancarkan Amerika ke beberapa negara telah memanaskan ekonomi dunia.

Beberapa hal tersebut adalah bagian dari kebijakan America First yang dicanangkan oleh Trump untuk menyelamatkan ekonomi domestik Amerika yang terus menurun sejak dekade terakhir.

Salah satu permasalahan ekonomi Amerika adalah defisit transaksi perdagangan yang mencapai 500 miliar dollar, sehingga Trump memberlakukan kenaikan tarif impor tinggi bagi Negara-negara mitra dagangnya termasuk Indonesia yang selama ini mengalami surplus perdagangan dengan Amerika. Bahkan defisit perdagangan Amerika terhadap China nilainya hampir 390 miliar dollar dan dengan Uni Eropa sekitar 150 miliar dollar.

Kebijakan kenaikan suku bunga the fed juga semakin memanaskan suhu ekonomi dunia. Di mana, dana-dana Amerika yang selama ini di parkir dan diinvestasikan di luar Amerika secara bergelombang kembali ke Amerika karena suku bunga yang semakin tinggi di Amerika. Yang kemudian dollar menjadi langka di mayoritas negara di dunia dan semakin memperkuat nilai tukar dollar.

Harga minyak dunia yangg terus meningkat semakin menambah genap kesuliitan ekonomi di dunia karena pada akhirnya keseluruhan penyebab tersebut menjadikan harga produk menjadi tinggi karena biaya produksi dan bahan bakunya juga masih impor.

Seluruh dunia memang saling terkoneksi satu dan yang lainnya, sehingga sakitnya negara lain akan mempengaruhi negara lainnya. Amerika juga belum tentu bisa bertahan dan berkeras dengan kebijakannya karena ekonomi domestiknya juga akan terdampak karena Negara-negara lainnya juga membalas perang dagang Amerika.

Dr. H. Andi Desfiandi, SE,. MA.
Ketua Yayasan Alfian Husin
Ketua Bravo 5 Lampung
DOK PRIBADI/SBM

Apa yang terjadi di Turki bisa saja akan terjadi di negara lain termasuk Indonesia. Walaupun fundamental ekonomi relatif jauh lebih baik dari Turki namun tidak ada salahnya untuk juga kita lebih bersiap.

Kemudian pertanyaannya apa yang harus dilakukan Indonesia agar bisa bertahan dan mungkin mengambil keuntungan dari kemungkinan krisis ekonomi yang mungkin akan lebih buruk dari tahun 2008?

Menurut pendapat saya ada beberapa hal yang harus dilakukan:

  1. Mencari mitra dagang baru selain Amerika, dengan bermitra dengan negara yang mata uangnya melemah terhadap dollar dengan menggunakan currency basket selain dolllar.
  2. Mengurangi import non produktif serta meningkatkan ekspor untuk terhindar dari defisit neraca perdagangan.
  3. Menambah portfolio pinjaman dalam negeri dengan mata uang rupiah dengan meminta BUMN, Korporasi Swasta atau Lembaga dalam negeri untuk berinvestasi di obligasi pemerintah.
  4. Menunda proyek-proyek strategis nasional yang menggunakan bahan baku utama impor (misalnya pembangkit listrik yang menggunakan turbin impor).
  5. Meminta masyarakat dan korporasi untuk menjual dollarnya.
  6. Meminta BI untuk membatasi pinjaman dollar baik pemerintah maupun swasta.
  7. Meminta BI untuk menaikkan suku bunga acuannya.
  8. Pemerintah untuk segera mengeluarkan deregulasi moneter dan fiskal termasuk kemudahan usaha terutama produk-produk yang berbahan baku lokal.
  9. Pemerintah dan masyarakat untuk membeli produk-produk
  10. Meningkatkan devisa negara dari pariwisata dan ekonomi kreatif.
  11. Mendorong industrialisasi berbahan baku lokal terutama industialisasi desa dalam memperkuat ekonomi domestik dan percepatan pemerataan ekonomi, (melalui dana desa dan insentif lainnya yang sudah diberikan pemerintah).
  12. Meningkatkan dana jaring pengaman sosial dari dana penundaan beberapa proyek strategis, sekaligus untuk dana insentif produktif masyarakat.

Dan, kebijakan-kebijakan lain agar bisa bertahan dan mungkin mengambil keuntungan dari kemungkinan krisis ekonomi yang mungkin akan lebih buruk dari tahun 2008?

Semoga perekonomian dunia segera mendingin dan Indonesia mampu mengambil momentum terebut untuk keuntungan bangsa dan negara.

Bagi politikus dan pendukungnya mari beretika untuk tidak memperalat situasi untuk kepentingan politik. Karena kita semua sebenarnya paham bahwa tidak ada satupun yang mampu melakukan simsalabim untuk membalikkan keadaan dalam satu malam dan belum tentu lebih baik apabila ditangani oleh siapapun termasuk yang suka teriak-teriak menghujat dan menyalahkan.

Mari berpikir dan bertindak rasional demi bangsa dan negara, dan kita bela bangsa kita dengan dengan setidaknya berpikir dan bertindak positif dan tidak ikut memperkeruh keadaan.

 

Wassalam,

Dr. H. Andi Desfiandi, SE,. MA.

Ketua Yayasan Alfian Husin

Ketua Bravo 5 Lampung

Satu tanggapan untuk “Indonesia di Tengah Pusaran Perang Ekonomi Dunia

  • 1 September 2018 pada 7:16 am
    Permalink

    Mantab

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *