Perang Dagang Amerika V China Memasuki Babak Baru

17,458 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

PERANG dagang USA v China ternyata di luar prediksi dan analisis banyak ekonom dunia, karena ternyata masih terus berlanjut bahkan semakin memburuk.

Tentu saja perang dagang dua raksasa ekonomi dunia tersebut telah berimbas terhadap ekonomi negara-negara  lain di dunia termasuk Indonesia. Dimana pertumbuhan ekonomi dunia cenderung stagnan bahkan banyak negara yang mengalami penurunan pertumbuhan ekonominya.

Perang dagang USA v China setidaknya memengaruhi perdagangan kedua negara lebih dari 360 miliar dollar atau lebih dari 5.000 triliun rupiah, angka tersebeut belum termasuk dampak turunan dari beragam komoditas yang berkaitan.

Kebijakan Presiden AS Trump telah memberikan dampak negatif bagi perekonomian USA baik di dalam dan luar negeri. Dimana industri terkait di USA yang menggunakan bahan baku dari China akhirnya harus menutup usaha mereka dan mem-PHK karyawan-karyawan mereka. Begitu pula dengan industri-industri USA yang berada di China juga mendapatkan dampak negatif akibat perang dagang tersebut.

Hal yang sama juga terjadi bagi ekonomi China di dalam negeri maupun di Amerika karena pabrik dan industri mereka harus ditutup serta gelombang PHK juga terjadi akibat kebijakan perang dagang yang dilakukan oleh Trump. China yang kemudian melakukan hal yang sama dan terus berlanjut ke beberapa produk import dari USA tampaknya juga tidak akan mengalah.

Yang paling menghawatirkan adalah surat hutang USA yang dimiliki oleh China diperkirakan mencapai sekitar 1.2 triliun USD atau sekitar atau sekitar 16.900 triliun rupiah bisa saja akan ditarik oleh China. Apabila hal tersebut dilakukan maka akan menjadi zero sum game alias bumi hangus. Karena, selain semakin melemahkan ekonomi Amerika tapi juga tentunya China termasuk sebagian besar Negara-negara di dunia.

China akan semakin over likuiditasnya dan pasar uang akan dibanjiri oleh surat hutang USA akan dijual mahal kepada USA oleh negara lain, sedangkan negara lain akan membeli murah surat hutang USA yang dimiliki China.

Apapun yang akan dilakukan oleh China apabila menarik surat hutang USA yang dimiliki China akan memberikan dampak ekonomi dan keuangan dunia termasuk China dan Amerika walaupun rating surat hutang USA adalah termasuk yang teraman di dunia.

Apabila perang dagang USA v China ini terus berlanjut tentunya akan terus memberikan dampak yang negatif kepada negara-negara lain. Walaupun sebagian analis mengatakan bahwa ada peluang bagi Indonesia untuk mensubstitusi produk yang diproteksi oleh kedua negara tersebut.

Memang tidak mudah mensubstitusinya karena sebagian besar produk-produk yang mereka proteksi adalah produk-produk bertehnologi tinggi yang Indonesia belum mampu memproduksinya.

China mungkin akan melawan keras atau mungkin berharap publik Amerika yang akan menekan Trump untuk merubah kebijakannya tersebut. Atau bisa juga berharap Trump tidak akan terpilih kembali menjadi Presiden USA di Pemilu 2020, karena memang begitu banyak kebijakan-kebijakannya yang kontroversial baik di bidang ekonomi, politik dan juga militernya.

Indonesia sepertinya juga harus bersiap terhadap skenario terburuk apalagi Bank Dunia dan juga IMF telah merevisi prediksi/asumsi pertumbuhan ekonomi dunia akibat masih berlanjutnya perang dua raksasa dunia tersebut.

Pertarungan kedua negara tersebut sebenarnya bukan semata perlombaan sebagai negara terkuat di dunia dalam bidang militer dan ekonomi, tapi juga pertarungan menjadi negara industri tehnologi dan informasi terkuat di dunia.

Karena, dengan menguasai teknologi dan informasi maka akan menguasai dunia. Lihat saja proteksi yang dilakukan Amerika adalah produk-produk teknologi dan informasi milik China yang kemudian juga dibalas oleh China dengan proteksi produk-produk yang sama. (Klik1)
Wallahualam

Dr. Andi Desfiandi, S.E,. M.A. (Ketua Yayasan Alfian Husin)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *